WANITA.me
|
"Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing
Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Hadayani".
Beberapa dari kita mungkin tidak
asing dengan kalimat tersebut. Kalimat yang dicetuskan oleh Ki Hajar
Dewantara ini dijadikan semboyan bagi pendidikan di Indonesia sampai saat
ini. Kalimat tersebut memilki makna "Di Depan Memberi Teladan, Di Tengah
Memberi Bimbingan, Di Belakang Memberi Dorongan"
Ki Hajar Dewantara merupakan salah
satu tokoh pendidikan yang memiliki pengaruh cukup besar bagi pendidikan di
Indonesia. Hal ini dapat kita lahir dari Hari Pendidikan Nasional yang jatuh
pada 2 Mei, dimana pada tanggal tersebut merupakan hari lahir dari Ki Hajar
Dewantara.
Dibawah ini merupakan beberapa
fakta yang mungkin belum kamu ketahui mengenai Bapak Pendidikan Nasional atau
yang akrab disebut Hardiknas:
1. Mengganti Nama
|
Nama asli Ki Hajar Dewantara adalah Raden Mas Soewardi
Soeryaningrat. Ki Hajar Dewantara mengganti namanya tepat diusia 40 tahun. Hal
ini dilakukan Ki Hajar Dewantara agar ia dapat bebas dekat dengan rakyatnya,
tanpa ada nya kesenjangan bahwa ia merupakan keluarga keraton Yogyakarta.
2.
Menjadi Wartawan
Ki Hajar Dewantara menamatkan pendidikan dasar di ELS (Sekolah
Dasar Eropa/Belanda). Ia kemudian melanjutkan sekolah ke STOVIA atau sekolah
pendidikan dokter pribumi di kota Batavia pada masa kolonial Hindia Belanda,
yang kini lebih dikenal sebagai fakultas kedokteran Universitas Indonesia.
Namun karena penyakit yang ia derita, ia tidak dapat meneruskan pendidikannya
di STOVIA. Setelah itu, Ki Hajar Dewantara memilih untuk menjadi penulis dan
wartawan. Ki Hadjar Dewantara terlihat lebih tertarik dalam dunia jurnalistik,
hal ini dapat dilihat dari pekerjaan nya sebagai wartawan dibeberapa surat
kabar pada masa itu. Beberapa surat kabar itu yakni, Sediotomo, Midden Java, De
Expres, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara. Gaya
penulisan Ki Hadjar Dewantara pun cenderung tajam mencerminkan semangat anti
kolonial.
3. Menteri Pendidikan Pertama
Setelah Indonesia Merdeka, Ki Hajar Dewantara diangkat menjadi
Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan dalam Kabinet Pertama Republik
Indonesia. Selain itu, berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI nomor 305 tahun
1959, tanggal 28 November 1959, Ki Hajar Dewantara diangkat dan disahkan
sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia. Meskipun sudah ditetapkan sejak
tahun 1959, pelaksanaan peringatannya Hardiknas sendiri baru rutin dilakukan
semenjak tahun 1967, setelah Soeharto menjabat sebagai presiden RI.
Adanya Hari Pendidikan
Nasional ini membuat kita mampu mengenyam pendidikan dengan sangat mudah.
Bayangkan bila Ki Hajar Dewantara tidak berjuang untuk pendidikan masyarakat
Indonesia masa itu, mungkin kita tidak akan bisa mengerti apa itu gadget,
social media, dan lainnya.
Terdapat satu kutipan
menarik yang diucapkan oleh Ki Hajar Dewantara: “Apapun yang dilakukan
oleh seseorang itu, hendaknya dapat bermanfaat bagi dirinya sendiri, bermanfaat
bagi bangsanya, dan bermanfaat bagi manusia di dunia pada umumnya”.
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar