Selasa, 08 Mei 2018

Fakta Dibalik Bapak Pendidikan Nasional


WANITA.me


"Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Hadayani".
Beberapa dari kita mungkin tidak asing dengan kalimat tersebut. Kalimat yang dicetuskan oleh Ki Hajar Dewantara ini dijadikan semboyan bagi pendidikan di Indonesia sampai saat ini. Kalimat tersebut memilki makna "Di Depan Memberi Teladan, Di Tengah Memberi Bimbingan, Di Belakang Memberi Dorongan"

Ki Hajar Dewantara merupakan salah satu tokoh pendidikan yang memiliki pengaruh cukup besar bagi pendidikan di Indonesia. Hal ini dapat kita lahir dari Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada 2 Mei, dimana pada tanggal tersebut merupakan hari lahir dari Ki Hajar Dewantara.

Dibawah ini merupakan beberapa fakta yang mungkin belum kamu ketahui mengenai Bapak Pendidikan Nasional atau yang akrab disebut Hardiknas:

1.     Mengganti Nama
Nama asli Ki Hajar Dewantara adalah Raden Mas Soewardi Soeryaningrat. Ki Hajar Dewantara mengganti namanya tepat diusia 40 tahun. Hal ini dilakukan Ki Hajar Dewantara agar ia dapat bebas dekat dengan rakyatnya, tanpa ada nya kesenjangan bahwa ia merupakan keluarga keraton Yogyakarta.
 2.     Menjadi Wartawan
Ki Hajar Dewantara menamatkan pendidikan dasar di ELS (Sekolah Dasar Eropa/Belanda). Ia kemudian melanjutkan sekolah ke STOVIA atau sekolah pendidikan dokter pribumi di kota Batavia pada masa kolonial Hindia Belanda, yang kini lebih dikenal sebagai fakultas kedokteran Universitas Indonesia. Namun karena penyakit yang ia derita, ia tidak dapat meneruskan pendidikannya di STOVIA. Setelah itu, Ki Hajar Dewantara memilih untuk menjadi penulis dan wartawan. Ki Hadjar Dewantara terlihat lebih tertarik dalam dunia jurnalistik, hal ini dapat dilihat dari pekerjaan nya sebagai wartawan dibeberapa surat kabar pada masa itu. Beberapa surat kabar itu yakni, Sediotomo, Midden Java, De Expres, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara. Gaya penulisan Ki Hadjar Dewantara pun cenderung tajam mencerminkan semangat anti kolonial.

3.     Menteri Pendidikan Pertama
Setelah Indonesia Merdeka, Ki Hajar Dewantara diangkat menjadi Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan dalam Kabinet Pertama Republik Indonesia. Selain itu, berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI nomor 305 tahun 1959, tanggal 28 November 1959, Ki Hajar Dewantara diangkat dan disahkan sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia. Meskipun sudah ditetapkan sejak tahun 1959, pelaksanaan peringatannya Hardiknas sendiri baru rutin dilakukan semenjak tahun 1967, setelah Soeharto menjabat sebagai presiden RI. 

Adanya Hari Pendidikan Nasional ini membuat kita mampu mengenyam pendidikan dengan sangat mudah. Bayangkan bila Ki Hajar Dewantara tidak berjuang untuk pendidikan masyarakat Indonesia masa itu, mungkin kita tidak akan bisa mengerti apa itu gadget, social media, dan lainnya.

Terdapat satu kutipan menarik yang diucapkan oleh Ki Hajar Dewantara:  “Apapun yang dilakukan oleh seseorang itu, hendaknya dapat bermanfaat bagi dirinya sendiri, bermanfaat bagi bangsanya, dan bermanfaat bagi manusia di dunia pada umumnya”.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cerita Menarik di Balik JCSHOOP

Testimoni lucu dari konsumen JCSHOOP Menjadi seorang pembisnis bukan selalu tentang uang, keuntungan, dan profit. Bagaimana cara...