Kamis, 07 Juni 2018

William : Jiwa Mati yang Berbahagia

Novel William cetakan ke-5

Judul               : William
Penulis           : Risa Saraswati
Penerbit          : Summer Jazzy
Tahun             : 2018 (Cetakan ke-5)        
Tebal              : 206 halaman

“Aku adalah jiwa mati paling berbahagia. Hidup sesungguhnya, dimulai saat aku tak lagi bernapas….” 

Begitulah tulisan yang ada pada cover buku berjudul Wiliam. Buku hasil tulisan Risa Saraswati ini menceritakan tentang kehidupan nyata satu dari kelima sahabat tak kasat mata nya. Risa memang memiliki sahabat-sahabat gaib semenjak dirinya kecil, yakni Peter, Hans, Hendrick, Wiliiam, dan Janshen. Nah, kali ini saya akan membahas sedikit mengenai kisah Wiliam yang dituliskan dalam buku ini. 

Diantara kelima sahabat Risa itu, Wiliam memang dikenal sebagai sosok yang pendiam dan sangat dewasa. Pengalaman semasa hidupnya lah yang mendasari sifat Wiliam hingga bisa menjadi seperti ini.

William Van Kemmen atau yang akrab dipanggil Will ini lahir dari orangtua bernama Maria Zyl dan Johan Van Kemmen. Memiliki kehidupan yang sangat berkecukupan, tidak menjamin kebahagiaan anak berusia 9 tahun ini. Will lahir ditengah orangtua yang tidak peduli kepadanya. Maria sebagai ibu dari Will hanya peduli pada harta dan kekayaan keluarga Van Kemmen saja, hal ini membuat Maria menjadi sosok yang sangat arogan dan sombong. Sedangkan Johan ayah Will merupakan sosok yang sangat patuh terhadap perkataan istri nya. Karena kecintaan nya pada Maria istri nya, Johan sampai melupakan dan mengabaikan kewajiban nya sebagai kepala keluarga.  

Kisah William dimulai saat keluarga Van Kemmen harus pindah dari Netherland ke Indonesia. Bandung menjadi satu tempat yang ditunjuk oleh keluarga Van Kemmen ini sebagai tempat untuk tinggal. Kota inilah yang menjadi saksi bisu kesengsaraan William semasa hidupnya. Dalam buku ini, keberadaan ibunya lah yang membuat William merasa terbebani dengan hidup yang dimilikinya. Maria merupakan sosok yang digambarkan sangat sombong, terutama pada masyarakat inlander (pribumi). Ia merasa bahwa masyarakat inlander merupakan sosok yang sangat rendah dan tidak pantas untuk hidup  berdampingan dengan keluarganya. 

Berbeda dengan Ibu nya, William merupakan anak yang sangat sopan dan murah hati kepada siapapun. Will merasa bahwa tidak ada salahnya bila berteman dengan para masyarakat inlander itu. Hal inilah yang kerap kali memicu pertengkaran antara William dan Maria. Bila sudah terjadi keributan seperti ini, William hanya akan meratapi kesepiannya bersama Nouvel, Biola tua pemberian kakek kesayangannya.  

William menutup hidupnya diusia 9 tahun. Ia mati terbunuh oleh para Nippon (Penjajah Jepang) yang menjajah kota Bandung saat itu. Sebuah sabitan benda tajam mendarat dileher Will saat ia sedang memainkan lagu bernada minor sebagai tanda kesedihannya. Sekejap keheninganpun menyelimuti ruang kamar Will, tak ada lagi suara biola bahkan suara nafas anak malang itu pun tak lagi terdengar. Sabitan tadi ternyata membuat badan dan kepala Will terpisah, namun terdapat sesuatu yang aneh disitu. Dengan mata terpejam, Will telihat memberikan senyuman kecil dibibirnya. Ia terlihat seperti sedang tidur dengan mimpi yang indah.

Secara keseluruhan, buku ini sangat menarik untuk dibaca. Pembaca seolah diajak untuk mengetahui latar belakang adanya para makhluk dari dunia lain ini. Seolah kita disadarkan bahwa makhluk-makhluk tersebut pernah memiliki kehidupan yang tak layak, hingga membuat mereka masih tak tenang untuk beristirahat ditempat seharusnya mereka berada.  







Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cerita Menarik di Balik JCSHOOP

Testimoni lucu dari konsumen JCSHOOP Menjadi seorang pembisnis bukan selalu tentang uang, keuntungan, dan profit. Bagaimana cara...