![]() |
| Novel William cetakan ke-5 |
Judul : William
Penulis : Risa Saraswati
Penerbit : Summer Jazzy
Tahun : 2018 (Cetakan ke-5)
Tebal : 206 halaman
“Aku adalah jiwa mati paling
berbahagia. Hidup sesungguhnya, dimulai saat aku tak lagi bernapas….”
Begitulah tulisan yang ada pada
cover buku berjudul Wiliam. Buku hasil tulisan Risa Saraswati ini menceritakan
tentang kehidupan nyata satu dari kelima sahabat tak kasat mata nya. Risa
memang memiliki sahabat-sahabat gaib semenjak dirinya kecil, yakni Peter, Hans,
Hendrick, Wiliiam, dan Janshen. Nah, kali ini saya akan membahas sedikit
mengenai kisah Wiliam yang dituliskan dalam buku ini.
Diantara kelima sahabat Risa itu,
Wiliam memang dikenal sebagai sosok yang pendiam dan sangat dewasa. Pengalaman
semasa hidupnya lah yang mendasari sifat Wiliam hingga bisa menjadi seperti
ini.
William Van Kemmen atau yang akrab
dipanggil Will ini lahir dari orangtua bernama Maria Zyl dan Johan Van Kemmen.
Memiliki kehidupan yang sangat berkecukupan, tidak menjamin kebahagiaan anak
berusia 9 tahun ini. Will lahir ditengah orangtua yang tidak peduli kepadanya.
Maria sebagai ibu dari Will hanya peduli pada harta dan kekayaan keluarga Van
Kemmen saja, hal ini membuat Maria menjadi sosok yang sangat arogan dan
sombong. Sedangkan Johan ayah Will merupakan sosok yang sangat patuh terhadap
perkataan istri nya. Karena kecintaan nya pada Maria istri nya, Johan sampai
melupakan dan mengabaikan kewajiban nya sebagai kepala keluarga.
Kisah William dimulai saat keluarga
Van Kemmen harus pindah dari Netherland ke Indonesia. Bandung menjadi satu
tempat yang ditunjuk oleh keluarga Van Kemmen ini sebagai tempat untuk tinggal.
Kota inilah yang menjadi saksi bisu kesengsaraan William semasa hidupnya. Dalam
buku ini, keberadaan ibunya lah yang membuat William merasa terbebani dengan
hidup yang dimilikinya. Maria merupakan sosok yang digambarkan sangat sombong,
terutama pada masyarakat inlander (pribumi). Ia merasa bahwa masyarakat
inlander merupakan sosok yang sangat rendah dan tidak pantas untuk hidup
berdampingan dengan keluarganya.
Berbeda dengan Ibu nya, William
merupakan anak yang sangat sopan dan murah hati kepada siapapun. Will merasa
bahwa tidak ada salahnya bila berteman dengan para masyarakat inlander itu. Hal
inilah yang kerap kali memicu pertengkaran antara William dan Maria. Bila sudah
terjadi keributan seperti ini, William hanya akan meratapi kesepiannya bersama
Nouvel, Biola tua pemberian kakek kesayangannya.
William menutup hidupnya diusia 9
tahun. Ia mati terbunuh oleh para Nippon (Penjajah Jepang) yang menjajah kota
Bandung saat itu. Sebuah sabitan benda tajam mendarat dileher Will saat ia
sedang memainkan lagu bernada minor sebagai tanda kesedihannya. Sekejap
keheninganpun menyelimuti ruang kamar Will, tak ada lagi suara biola bahkan
suara nafas anak malang itu pun tak lagi terdengar. Sabitan tadi ternyata
membuat badan dan kepala Will terpisah, namun terdapat sesuatu yang aneh
disitu. Dengan mata terpejam, Will telihat memberikan senyuman kecil
dibibirnya. Ia terlihat seperti sedang tidur dengan mimpi yang indah.
Secara keseluruhan, buku ini sangat
menarik untuk dibaca. Pembaca seolah diajak untuk mengetahui latar belakang
adanya para makhluk dari dunia lain ini. Seolah kita disadarkan bahwa
makhluk-makhluk tersebut pernah memiliki kehidupan yang tak layak, hingga
membuat mereka masih tak tenang untuk beristirahat ditempat seharusnya mereka
berada.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar