Selasa, 06 Maret 2018

Tradisi Imlek Masyarakat Indonesia


Photo by: Viva.co.id/FajarSodiq


          Sin Cia atau yang lebih akrab disebut Imlek merupakan salah satu hari yang paling ditunggu-tunggu oleh beberapa masyarakat beretnis Tionghoa. Tahun baru ini di dasari oleh Kalender Lunar Tradisional Tionghoa yang melihat pada revolusi bulan terhadap bumi. Satu putaran kalender lunar sama dengan 12 putaran revolusi bulan. Revolusi bulan berlangsung selama 29 hari 12 jam 44 menit 9 detik. Sehingga satu tahun lunar sama dengan 354 hari 10 jam 49 menit 48 detik. Sekitar 11 hari lebih sedikit dibandingkan dengan kalender Masehi.

Pada hari perayaan imlek yang ke 2565 yang jatuh pada 16 Februari 2018 lalu merupakan pergantian dari tahun ayam api ke tahun anjing tanah. Shio anjing dikenal sebagai pribadi yang mandiri, jujur, setia,  tegas, serta tidak takut pada kesulitan yang dialami dalam hidup. Sedangkan tanah memiliki kaitan dengan logam, mineral, dan tambang yang berarti usaha tambang, mineral, dan besi akan baik sekali pada tahun ini,

Tahun baru Imlek biasa dirayakan selama 15 hari dengan diakhiri perayaan Cap Go Meh. Menjelelang perayaan Imlek, masyarakat Tionghoa yang merayakan akan mempersiapkan banyak hal. Mulai dari tradisi membersihkan rumah sebelum hari Imlek datang, menghias rumah dengan berbagai nuansa merah, serta tak lupa menyediakan angpao yang nantinya akan dibagikan di Hari Raya Imlek.

Pada perayaan Imlek, terdapat banyak kepercayaan dari leluhur yang masih dijalankan oleh beberapa masyarakat Tionghoa. Kepercayaan ini tetap dilakukan dengan tujuan menghargai para leluhur yang telah mendahului mereka.

Misalnya tidak diperbolehkan menyapu rumah mulai dari hari pertama Imlek sampai selesai nya perayaan Imlek. Masyarakat Tionghoa percaya bila menyapu rumah selama perayaan Imlek akan membuat keberuntungan yang datang ke rumah itu ikut tersapu keluar. Selain itu, selama perayaan Imlek ini pun masyarakat Tionghoa dianggap pantang untuk menyediakan bubur di meja makannya. Bubur dianggap sebagai symbol dari kemiskinan.

Photo by: iceo.co.id
Tradisi lain yang dianggap sangat penting di Hari Raya Imlek adalah pernak pernik serba merah. Warna merah dianggap sebagai warna yang kuat, sejahtera, serta dapat membawa hoki. Selain itu, leluhur juga mempercayai bahwa warna merah merupakan warna yang ditakuti oleh Nian. Nian merupakan binatang buas yang hidup di dasar laut atau gunung daerah pedesaan di Tiongkok. Konon pada zaman dulu Nian dipercaya akan keluar saat musim semi atau saat tahun baru Imlek. Kedatangan Nian ini dianggap menyusahkan masyarakat desa. Nian sering kali memangsa hewan-hewan ternak masyarakat, tak hanya itu  Nian juga sering memangsa anak-anak kecil untuk dijadikan makanan nya. Maka dari itu, tidak heran bila warna merah menjadi nuansa utama pada saat perayaan Imlek ini.

Tradisi lain yang tak pernah absen saat perayaan Imlek adalah bagi-bagi Angpao. Angpao merupakan amplop merah yang biasanya diisikan uang, yang nantinya akan dibagi-bagikan pada saat perayaan Imlek berlangsung. Biasanya Angpao akan diberikan oleh mereka yang sudah menikah kepada anak-anak atau sanak saudara merka yang belum menikah. Namun kebiasaan memberi Angpao berisi uang merupakan kebiasaan baru dari zaman Dinasti Ming dan Qing. Pada zaman dahulu para orangtua  memberikan Angpao berisikan manisan, permen, atau kue-kue. Namun seiring perkembangan zaman, anak-anak yang diberikan Angpao ternyata tak hanya menginginkan manisan, permen, atau kue, tapi mereka juga menginginkan petasan, mainan, dan sebagainya. Jadi agar lebih praktis, para orangtua memberi uang sebagai penggantinya supaya anak-anak bisa memutuskan sendiri apa saja yang ingin mereka beli dengan angpao-nya.

Layaknya lebaran, Imlek pun menjadi waktu yang sangat tepat untuk berkumpulnya sanak saudara. Biasanya mereka berkumpul ditempat seseorang yang dituakan, bisa orangtua mereka sendiri bisa juga kakak tertua dalam keluarga tersebut. Maka tidak heran, pada saat menjelang Imlek banyak warga Tionghoa yang pulang ke kampung halamannya untuk merayakan Imlek bersama keluarga mereka. 

Hari Raya Imlek secara resmi menjadi hari libur nasional, hal ini menjadi bukti nyata bahwa negara Indonesia masih menjunjung tinggi keberagaman yang ada pada masyarakatnya. Hak berbudaya sudah dijamin oleh negara, sekarang tinggal bagaimana kita sebagai warga Negara memiliki kewajiban untuk bergotong-royong dan bekerja sama menjunjung tinggi perbedaan tersebut dan berusaha agar perbedaan yang ada dapat dianggap sebagai keberagaman budaya pada masyarakat nya.


Cerita Menarik di Balik JCSHOOP

Testimoni lucu dari konsumen JCSHOOP Menjadi seorang pembisnis bukan selalu tentang uang, keuntungan, dan profit. Bagaimana cara...